Bismillahirrahmanirrahim.
Yeaay.. alhamdulillah sampai juga pada tahap Bunda Saliha. Awalnya tidak yakin akan ikut di Batch #2 ini karena banyak sekali pertimbangan yang membuat diri ini banyak bertanya pada diri sendiri, "Sanggupkah aku?"
Dan, InsyaaAllah Annur sanggup.. Bismillah, kuatkan tekad untuk mengarungi tantangan yang ada di depan mata. Annur tak akan tahu bagaimana prosesnya jika tidak mencobanya. Tidak akan melihat hasilnya jika tak mau berproses.
By the way, sepertinya sih ini lebih banyak curhat nya deh nanti isi jurnalnya. Semoga gak bosen ya..
Pada tahap pertama, kami dapat tantangan untuk identisikasi masalah. "Memahami masalah dan mampu mengidentifikasi masalah yang ada dalam diri kita dan lingkungan sekitar kita, merupakan ketrampilan awal yang harus dimiliki oleh seorang Ibu Pembaharu". Wuaaaah.. sangat menarik!
Karena tantangannya mencari-cari masalah, cari akar masalah, yaa banyak banget sebenarnya masalah yang sedang dipikirkan. Dan kenapa mesti nyari masalah? Padahal banyak orang menghindari masalah, gak mau bermasalah apalagi bersalah. Eits, bukan begitu ya Annur..
Disini, kita akan belajar mencintai masalah. Apapun itu bentuknya, agar kedepannya menemukan solusi dan siap beraksi. Kok masalah harus dicintai? Ya kalau tak cinta bagaimana kita tahu bahwa itu masalah dan bagaimana menemukan solusinya. Maka cintai dulu masalahnya, lalu ciptakan solusinya. Dan ini gak sekedar solusi langsung beres, tapi jangka panjang. Ketika kita sudah mencintai masalah, maka kita sudah benar-benar mengenal masalah ini dengan baik. Kita lebih tenang ketika menghadapinya, kita tidak cepat menyerah.
Tapi, tunggu dulu. Masalah seperti apa yang dimaksud untuk menjadi seorang Ibu Pembaharu? Akankah ini hanya masalah saya saja? Ataukah juga masalah bagi yang lain? Atau sebenernya ini bukan masalah tapi dianggap masalah?
Ambil kertas, mulai mencoret-coret dan menulis segala permasalahan yang nampak. Karena untuk menggali yang tak nampak harus dipancing dulu pakai umpan, yaitu permasalahan yang sudah tampak di depan mata.
Awalnya ada beberapa masalah yang sudah tertulis :
- Diri Sendiri
Sering merasa tak sanggup untuk.. banyak hal yang tak bisa dilakukan setelah menjadi istri dan menjadi seorang ibu. Tiba-tiba menjadi banyak pikiran dan semua serba salah. Kenyataanya Annur hanya fokus untuk sempurna. Menjadi seorang istri harus mahir domestikan, melayani suami, mengasuh anak dan tampil paripurna. Pada praktiknya sering kewalahan dengan diri sendiri. Dengan tuntutan diri terhadap diri sendiri. Melihat rumah berantakan, masakan gosong, cucian menggunung, anak berantem, belum sempat mandi, baju kerja suami belum disetrika dan sederet masalah yang nampak lalu menyalahkan diri sendiri yang tak sanggup untuk menaklukan itu. Terlalu berharap semua berjalan sempurna. Seperti pada film-film keluarga samara. Suami berangkat kerja sudah rapi, anak-anak siap sekolah, sarapan sudah tersedia, rumah bersih, ibu sudah mandi dan bau wangi bonus kecupan di kening dari suami. Lalu me time di rumah nonton TV, tinggal menunggu anak-anak pulang sekolah lalu shopping atau jalan-jalan sesuka hati. What?! Betapa idealnya bayangan itu, kenyataannya jangankan shopping, lihat di dompet ada selembar warna merah bergambar presiden pertama RI saja sudah bahagia. Ternyata warnanya ungu, salah lihat lalu mendengus.. huuuh. Cukup untuk beli tahu tempe dan bayam sudah bersyukur. Tiba-tiba jenuh membawa pada gadget dan membuka media sosial, beuuuhh.. ternyata kehidupan teman-teman dan orang-orang di luar sana begitu sangat sempurna. Berkedok healing jalan-jalan ke luar negeri satu keluarga setiap hari (emang tinggalnya disono kaleeek). Suaminya romantis banget suka kasih hadiah, anak-anaknya MasyaaAllah sholeh sholehah hafal Al Qur'an 30 Juz, bisa masak enak tiap hari lalu bisa sharing resep. Lihat-lihat lagi, ternyata rumahnya rapih dan jadi primadona dalam mendekorasi rumah, terlalu estetik. Belum lagi menjadi narasumber disana sini, menjadi inspirasi. Bicaranya lembut bak umma Nussa Rara. Sedekahnya selalu setiap hari, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi hajat banyak orang di negeri ini. Hay! Apa kabar diriku? *Ojo dibandingbandingke yaa..
Dan yaa.. tiap kali memiliki list harian, diriku selalu maksa harus sesuai! Jika tidak, yaudah gak usah dikerjain aja semuanya. Atau misal udah dikerjain tapi kehabisan waktu, selalu aja ada penyesalan dan menganggap diri ini lamban.
Lalu seringkali diriku ini merasa tak se frekuensi dengan suami. Kadang ada kalanya juga anak-anak merasa diabaikan. Karena beberapa tugas dan kelas yang harus dikejar jadwal pengumpulan dan kehadirannya.
Jadi kalau ditulis ulang mungkin masalah yang ada pada diri sendiri adalah : Maximizer terlalu kuat, kurang penerimaan untuk menurunkan standar, banyak ekspektasi yang terlalu tinggi, tidak bisa kalau dikerjain orang lain (kurang percaya), manajemen diri.
- Suami
Entah kenapa ini menjadi suatu masalah yang terpikirkan. Jujur, pernah ada perasaan salah menerima pasangan. Pernah kaget banget saat tahu kebiasaan suami yang begitu membuat stress. Annur yang tumbuh dalam keluarga mix adat dan budaya, begitu to the point dan gak bisa basa basi. Terbiasa disiplin, bersih dan rapi. Dapat seorang suami yang berkebalikan bahkan menurut Annur terlalu lambat. Terlalu feminim menurut Annur dan kurang maskulin, karena Annur ini lebih maskulin dari suami dalam mengambil keputusan. Annur gak bisa dipimpin sama seorang yang gak tegas, gak bisa kasih contoh dulu. Mungkin karena Annur terlalu dominan jadi butuh seorang suami yang lebih dominan. Dan hasil Talent Mapping kami juga mengamini bahwa kami sangat-sangat berkebalikan. Annur yang merah maximizer mendapatkan suami yang hitam maximizernya. Kebayang gak kami seakur apa dalam menentukan sesuatu, mengerjakan sesuatu bahkan membuat sesuatu. Kita jarang banget kompak dan AHA! Apakah harus menyerah berpasangan dengannya? Semoga masih terus semangat berjuang..
Belum lagi Annur yang gak dekat dengan keluarganya, jangankan Annur bahkan pak suami juga gak dekat dengan keluarganya. Hubungan biologis mereka tak mencerminkan bahwa mereka itu sebuah keluarga.
Penasaran bagaimana suami tumbuh dan menjadikannya menjadi seseorang seperti ini. Yang seringkali membuat Annur kesal karena kelambanan, keteledoran, kemalasan, gak bisa sat set das des, gak bisa menolong kalau gak dimintai tolong dan selalu gak pernah maksimal kalau dimintai pertolongan maupun mengerjakan apapun.
Mengapa suami menjadi sebuah masalah? Ditambah lagi dalam mengasuh anak, cuek dan tak terlihat peduli. Menambah rasa 'hanya Annur saja' yang menjalani pernikahan ini, rasa 'Annur sendiri' yang berjuang untuk mengasuh anak-anak. Belum lagi karena keputusan suami berhutang sebelum kami menikah dan semakin memperdalam hutangnya saat kami telah menikah. Meski Annur tak begitu peduli dipakai untuk apa uangnya, namun sangat terasa sulit ketika sedang butuh. Annur mulai dilema saat harus memilih menjadi back up keuangan atau fokus ke anak-anak. Karena setelah resign di awal pernikahan, Annur memang memutuskan jadi pedagang online shop. Gak bisa fokus di banyak hal, Annur pernah salah langkah untuk fokus memperbesar penghasilan. Namun, anak-anak terabaikan. Memang hasilnya bisa dinikmati bersama, namun waktu bersama terbuang begitu saja. Anak-anak jadi terlewat dalam beberapa tahapan yang seharusnya sudah pada tahap itu. Lagi-lagi Annur menyalahkan suami karena tak punya power untuk menghandle pemasukan keuangan keluarga. Merasa bahwa suami kurang maksimal dalam mencari nafkah bagi keluarga. Hingga membuat istrinya pusing tiap 1-2 pekan sebelum gajian, karena uang di dompet dan rekening bikin makin pening.
Sudahlah makin banyak coretan keburukan suami, hingga tak nampak hebatnya. Makin berderet predikatnya, mungkin sudah cukup jika mendapatkan penghargaan suami ter terr terrr sedunia. Suami cuek, suami tidak se frekuensi, suami tidak mau belajar, suami tidak mau berbenah tidak mau mengubah kebiaasaan buruk, suami tidak begini begitu.
Astaghfirullahaladzim, pantas saja neraka banyak wanitanya. Jika wanita itu macam diriku ini.
So, kalau di singkatkan : banyak perbedaan, tidak selalu seiya sekata, kadang-kadang kurang harmonis, kurang andil dalam pengasuhan anak.
- Keluarga
Tak dapat dipungkiri, keluarga sangat berpengaruh terhadap kehidupan yang Annur jalani di masa lalu, kini dan nanti. Benar adanya innerchild itu memang tidak nyaman. Jika ini adalah suatu masalah, maka setiap orang juga memiliki masalah ini. Tapi tergantung bagaimana mereka menyelesaikannya. Pun suami yang juga memiliki keluarga, Annur sempat memastikan apakah suami memiliki innerchild? Tentu saja iya, karena tak heran melihat dirinya yang tidak tuntas dalam mengelola emosi dan membuatnya kurang maksimal dalam mengemban peran sebagai qowam.Hmm.. Annur lebih dulu menyelesaikan masalah yang ini, lebih legowo menerima dan memang tak ada lagi rasa "aku dulu diperlakukan seperti itu maka aku jadi begini". Annur telah memeluk Annur kecil dengan sangat erat dan mengikhlaskan yang sudah pernah terjadi. Itu tak akan bisa terulang kembali. Namun sangat bisa kita ciptakan suasana baru yang membahagiakan di masa ini hingga nanti. Bagaimana hubungan antara ayah dan ibu, ayah dan anak, ibu dan anak, anak dan anak lainnya?
Karena latar belakang keluarga Annur dan suami yang sungguh berbeda. Kami seringkali beradu pendapat.
Bisa dibilang meski dari keluarga yang utuh, tapi keluarga suami tak memiliki kedekatan yang utuh. Sementara keluarga Annur yang memang pada akhirnya broken home, membuat Annur lebih banyak belajar tentang arti keluarga. Meski rasanya ada yang hilang saat perpisahan kedua orang tua terjadi, dan Annur banyak berdiam diri. Rumah tak lagi sama, pada suatu masa di waktu yang telah berlalu Annur pernah memberontak dengan berdiam diri, menutup rapat semua perasaan yang dirasakan. Ah, sungguh saat itu butuh keluarga yang sebenarnya.
Karena telah menjadi seorang ibu, Annur merasakan betul getaran yang ada setiap kali anak-anak bercerita tentang dirinya. Pada proses ini, sebagai ibu, Annur membantu anak-anak mengenal dirinya, emosinya, keinginannya.
~Ya! Ternyata sudah cukup untuk diriku selalu merasa kurang siap menjadi seorang ibu dan selalu saja beralasan butuh waktu untuk membenahi diri. Sudah dua anak terlahir dari rahimku, mana bisa ku katakan aku butuh waktu lagi dan lagi? Sementara mereka setiap waktu bertumbuh dan membutuhkan aku, ibunya. Apa yang akan ku katakan nanti pada Allah jika masih saja aku sibuk dengan diriku sendiri? Aku harus menentukan kapan aku siap untuk sebuah peran dan misi hidup yang akan ku jalani. Terkhususnya sebagai seorang IBU..
Kutanya lagi pada hatiku, "apakah ini sebuah masalah?"
- Lingkungan
- Anak-anak di lingkungan sekitar juga Annur amati, tidak memiliki hubungan yang begitu erat dengan ibunya. Beberapa lebih nyaman dengan temannya, sebagian lagi dengan gadgetnya. Terkadang ibunya kaget dengan sikap yang ditunjukkan anak di luar rumah, berbeda dengan yang biasa dilakukan di rumah. Anak tidak memiliki keberanian untuk banyak bercerita ke ibunya, pun ibunya kurang peka terhadap perasaan anaknya.
Annur melihat anak-anak yang kurang beruntung di luar sana, membawa Annur dalam dimensi yang berbeda. Annur pernah ada di posisi mereka, meski memiliki orangtua namun rasanya tak pernah bisa untuk bercerita. Apa arti rumah jika hanya untuk singgah?
Dari permasalahan yang Annur tuliskan di atas, beberapa sudah terselesaikan. Alhamdulillah.. Annur tak lagi pusing tentang ekspektasi dan realita karena menjalani hari ya cukup dengan apa yang bisa dan mampu dilakukan pada hari itu tanpa harus 'mengharuskan diri' untuk dapat menyelesaikan segalanya. Annur membuat sebuah 'PRIOURITAS' untuk menjawab ini. Dimana sebuah prioritas kami, ya our atau kami.. Dan hanya kami yang ada untuk menentukan, menyelesaikan, merasakan apa yang penting untuk kami. Untuk membangun kebahagiaan kami sendiri.
Keuangan keluarga, Alhamdulillah tahun ini suami lunas hutang RIBA yang ngeRIBAnget ituuuu.. Meski Alhamdulillah wa Qodarullah kami baru saja dapat ujian baru. Semampu kami untuk tidak berurusan dengan bank lagi, kami putuskan untuk menjual aset tanah yang kami miliki untuk menyelesaikan ujian ini. Semoga segera selesai ujian baru ini.
Challengenya, tetap mengusahakan memiliki dana untuk dikirim ke orangtua. Karena suami masih sering dimintai bantuan, juga diriku yang kadang gak enakan sama ibuku karena sering merepotkan beliau.
Alhamdulillah Allah kasih anak-anak pengertian yang sangat menerima keadaan. Tak pernah sekalipun mereka mengeluh tentang makanan, pakaian maupun mainan.
Kendaraan, meski ingin sekali memiliki roda empat untuk mudik dengan leluasa namun bersyukur punya roda empat yang masih di bagi dua. Dua sepeda motor yang telah berusia lebih dari usia anak-anak. Tak mengapa, masih ada angkutan umum. Hehe
Annur yang sebenarnya ingin membantu keuangan keluarga, memilih untuk tidak lagi menggebu-gebu. Karena pernah melebihi pendapatan suami, justru membuat Annur lupa diri. Dan makin menganggap suami tak memiliki power untuk hal ini.
Untuk permasalahan di lingkungan, Annur sudah membuat beberapa ide bermain bersama-sama anak-anak di sekitar sini. Tapi belum sempat terealisasi, semoga tahun ini sudah bisa berjalan. Aamiin
***
Jadi masalahnya dimana?
Ya, masalah yang masih saja terjadi adalah hubungan ini.
Seringkali perbedaan pendapat membuat kami bentrok dan merasa tak cocok.
Jika Annur lihat lagi, kasus perceraian di Indonesia juga banyak di dominasi oleh alasan ketidakcocokan atau perbedaan prinsip.
Padahal ada juga yang sudah menikah bertahun-tahun. Lalu gimana solusinya?
Annur coba petakan lagi masalah ini, dan mencari akarnya.
Ternyata besar kecil peran orangtua kami di masa lalu menjadi sebuah sumbangan masalah pada pribadi kami dalam berumah tangga.
Kami tidak memiliki waktu untuk bertanya pada orangtua kami apakah itu pernikahan, bagaimana menjalaninya, bagaimana rasanya, bagaimana jika ada masalah, bagaimana menghadapinya, apa itu mertua, bagaimana memperlakukannya, bagaimana bersikap, apa itu saudara ipar, bagaimana membangun komunikasi dengannya, apa tugas istri, apa tugas suami, apa kewajiban nya?
Ibu-ibu kami adalah wanita yang bekerja. Menjadi tulang punggung selain menjadi tulang rusuk. Karena ikut membantu perekonomian keluarga.
Tak ada waktu untuk bercerita apalagi bertanya tentang pernikahan, tentang hubungan orang dewasa dan segala pertanyaan yang ada dalam pikiran kami di kala itu.
Ternyata, hubungan ibu denganku yang sempat jauh juga berdampak pada rasa mempercayai orang lain. Terutama saat memiliki pasangan.
Annur belum bisa mempercayai orang lain untuk mendelegasikan tugas yang Annur anggap itu penting.
Hubungan dengan ibu, terasa sangat menyenangkan saat bercerita dengan nyaman. Melakukan aktivitas harian dan bermain bersama. Ini kurang banget buat Annur. Apalagi waktu usia 9 tahun harus ikut budhe di Jogja.
Beberapa waktu lalu, Annur membaca berita seorang anak SD gantung diri karena merasa jadi beban ibunya.
Sungguh ini menusuk sekali, rasanya sakit saat mengetahui berita ini.
Annur pernah merasakan rasanya tak dianggap, tak dipedulikan, dibandingkan, dibilang jadi beban.
Ingin rasanya memeluk anak-anak yang sedang merasakan perasaan seperti ini.
Kalian harus tau, bahwa tidak semua ibu berpikiran seperti itu. Kalian harus tau bahwa ada ibu-ibu yang akan menyayangi kalian dengan tulus. Mendengarkan cerita kalian dengan baik. Dan jangan merasa sendiri di dunia ini.
*Problem statement dan analisa akar masalah ini belum selesai edit. insyaaAllah nanti di update lagi.
Ini update terbaru yaa.. 👇👇👇
Ya! Ini adalah masalah yang akan Annur perjuangkan untuk mendapatkan solusinya. Anak-anak yang berhak tumbuh dengan bahagia. Tanpa rasa tertekan..
Jika mungkin Annur terlambat memperbaiki hubungan kedekatan dengan ibu, pun suami Annur yang sudah tidak bisa memperbaiki hubungannya dengan ibunya karena ibu mertua telah wafat. Annur masih memiliki kesempatan untuk menjalin kedekatan dengan anak-anak. Pun para ibu di luar sana yang masih memiliki anak kecil seperti Annur.
Anak-anak adalah titipan dari Allah yang kelak akan dimintai pertanggungjawabannnya, Annur harap dengan menjalin kedekatan dengan anak akan memiliki dampak yang besar untuk masa depannya. Saat mereka beranjak dewasa, hidup bersosial pun saat memiliki pasangan dan keluarga sendiri. Agar kelak tak ada lagi alasan innerchild, luka pengasungan, luka karena ibu yang cuek dan segala jenis luka hati lainnya.
Mereka dan kita berhak menjadi manusia dewasa yang bahagia. Memiliki rumah sebagai tempat yang nyaman untuk sekedar curhat, meminta saran, minta di dengarkan, berkreasi, berekspresi, dan melukis mimpi sebanyak-banyaknya.
Memiliki hubungan yang sehat dengan pasangan, dengan keluarga, dengan mertua, dengan ipar dan lainnya.
Akankah ada yang merasakan hal yang sama?
Bagaimana solusi untuk masalah ini?
Sejujurnya Annur pun masih meraba-raba. Semoga Allah meridhai Annur untuk mendapatkan solusinya ❤️







Tidak ada komentar:
Posting Komentar