Rabu, 21 Agustus 2019

Sweet Memories KIP 2019


Konferensi Ibu Profesional atau yang biasa kita singkat dengan KIP memang telah berakhir. Namun, gelora untuk melakukan suatu perubahan itu tetap menggebu dalam dada. Memang hanya 3D 2N namun sepertinya banyak yang akan susah move on dengan acara ini. Bagaimana tidak, mata, telinga dan hati kami ini baru saja di buka selebar-lebarnya. Bahwa perubahan itu dimulai dari hal terkecil, dari niat yang ingin membuat perubahan besar.Kita harus melakukan perubahan dari diri kita sendiri dulu, lalu kita terapkan di keluarga kita selanjutnya lingkungan kita dan terus membesar seperti apa yang kita harapkan. Berubah atau kita kalah, yaa.. kami mulai mengerti.
Di hari pertama kami di perlihatkan oleh ibu Sumitra Pasuphaty bagaimana perubahan itu dimulai. Merubah suatu masalah menjadi sebuah tantangan untuk dicari solusinya. Melakukan inovasi.
Lalu, ada anak-anak remaja yang sudah melakukan perubahan. Kami mendengar bagaimana mereka mampu untuk melakukan perubahan, salah satunya karena support orang tua nya. Kami mendegarkan suara hati mereka bahwa anak itu butuh di support, apapun ide nya jangan di remehkan. Dan dibalik perubahan yang mereka lakukan ada orang tua hebat yang dengan cinta dan kekuatannya mendukung semangat putri-putri nya untuk menjadi changemaker.

Bunda kami tercinta ibu Septi Peni Wulandani, ada beberapa kata yang mampu membuat kami tersenyum bahagia bahwa Tantangan itu tidak hanya dirasakan oleh kita sendiri. Bunda membuat kami menyadari bahwa tantangan itu ada solusinya, segera selesaikan tantangan itu agar kita bisa membantu yang lainnya. Bunda, terimaksih sudah menjadi ibu ideologis bagi kami. Annur sangat bersyukur di usia 25 tahun ini bisa mengikuti Konferensi  Ibu Profesional, tadinya mengira bahwa Konferensi Ibu Profesional khusus untuk yang sudah melakukan perubahan yang nyata yang sudah ahli di bidangnya masing-masing sedangkan Annur masih belajar.

17 Agustus 2019
Kami memng tidak mengikuti upacara bendera, namun kami bernyanyi Indonesia Raya dengan khidmat, membayangkan perjuangan pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Yaaa, para pahlawan yang membuat perubahan. Tidak hanya yang laki-laki, para perempuan di masa itu pun semangat melakukan perjuangan untuk perubahan. Bahkan mereka pun melaksanakan Kongres Perempuan yang pertama kali di Yogyakarta. Diikuti oleh 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra dan bertujuan memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan pernikahan.

Ada banyak ilmu yang kami dapatkan, dan membuat kami Mupeng untuk melakukannya, banyak yang bisa kami bawa pulang ke rumah untuk kami tiru dan modifikasi. Ada hijrah nol sampah, kampanye anti bullying, mata aksara atau taman baca untuk lingkungan sekitar,melakukan  sedekah jariyah, membuat eco enzym, membuat desain menu belajar sesuai STTPA, Ask to Solve, Konseling berperspektif gender, dan sharing ibu Noor Liesnani owner Pamela swalayan serta Manajemen Masjid Jogokaryan yang mampu melayani masyarakat di sekitar masjid.

Malamnya Pak Dodik Marianto memberitahukan bagaimana menjadi perempuan yang berdaya. Mulailah dari Dream It, jangan takut untuk bermimpi. Lalu Do It, jangan hanya bermimpi! kita harus lakukan, apa yang akan kita mulai lakukan sesegera mungkin. Share It, jangan pedulikan omongan orang lain selama apa yang kita lakukan di jalan yang benar untuk membuat perubahan yang lebih baik dan fokus dengan apa yang kita kerjakan. Lalu Grow It, yaa.. Perubahan itu akan semakin tumbuh dan berkembang maka akan lebih besar manfaat yang dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita atau bahkan meluas ke lingkungan dan jangkauan yang lebih besar.

Di hari terakhir ada ibu Tri Mumpuni, kami takjub dan bangga pada beliau. Kisah beliau itu Masyaa Allah luar biasa. Seorang wanita yang berdaya, gagah berani melakukan perjalanan panjang untuk berjuang agar daerah yang belum tersentuh listrik bisa segera mendapatkan listrik dan air bersih.
Dan memang benar, perubahan itu dimulai dari dalam terlebih dahulu. Ibu Puni bercerita tentang masa kecilnya yang memang sudah terbiasa mengikuti kegiatan ibu nya sebagai sociopreneur. Dan ini membuka mata kami, bahwa apa yang kami lakukan sebaiknya kami bicarakan dan perlihatkan juga ke anak-anak agar menjadi benih benih perubahan yang kelak akan mereka rawat hingga tumbuh subur. Mendidik ibu itu mendidik satu generasi. 

Terimakasih atas kesempatan yang luar biasa untuk menjadi peserta Konferensi Ibu Profesional 2019. Terimakasih suami tersayang untuk ridho dan ijinnya serta support dana untuk istrimu ini menjadi bagian dari ibu-ibu agen perubahan lainnya. Terimakasih All Tim Panitia baik dari pusat maupun regional, terimakasih Bunda Septi dan Pak Dodik yang telah sukses membuat kami haru menjadi bagian dari Ibu Profesional do'akan kami sukses mengikuti jejak langkah Bapak dan Ibu dalam menjadi agen perubahan dan mendidik anak-anak kami agar anak-anak kami pun selamat. Menjadi generasi yang unggul dan mampu membuat perubahan baik bagi lingkungan sekitar.

Ada poin penting yang Annur ambil dari semua pemateri dan changemaker yang tampil bahwa "melakukan perubahan itu adalah melayani" . Yaaa! Sebelum melayani orang lain kita harus selesai dengan diri kita sendiri. Mereka berbagi apa yang sudah mereka jalani, prosesnya yang memang penuh tantangan namun lihat hasilnya yang sangat memuaskan.
Dan akhir kata

"Proud to be Changemaker"




Yogyakarta, 21 Agustus 2019

Annur - Ibu muda yang senang belajar.

#KIP2019
#ibuberkonferensi
#ibuagenperubahan
@septipw 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar