Konferensi Ibu
Profesional atau yang biasa kita singkat dengan KIP memang telah berakhir.
Namun, gelora untuk melakukan suatu perubahan itu tetap menggebu dalam dada.
Memang hanya 3D 2N namun sepertinya banyak yang akan susah move on dengan acara
ini. Bagaimana tidak, mata, telinga dan hati kami ini baru saja di buka
selebar-lebarnya. Bahwa perubahan itu dimulai dari hal terkecil, dari niat yang
ingin membuat perubahan besar.Kita harus melakukan perubahan dari diri kita
sendiri dulu, lalu kita terapkan di keluarga kita selanjutnya lingkungan kita
dan terus membesar seperti apa yang kita harapkan. Berubah atau kita
kalah, yaa.. kami mulai mengerti.
Di hari pertama
kami di perlihatkan oleh ibu Sumitra Pasuphaty bagaimana perubahan itu dimulai.
Merubah suatu masalah menjadi sebuah tantangan untuk dicari solusinya.
Melakukan inovasi.
Lalu, ada
anak-anak remaja yang sudah melakukan perubahan. Kami mendengar bagaimana
mereka mampu untuk melakukan perubahan, salah satunya karena support orang tua
nya. Kami mendegarkan suara hati mereka bahwa anak itu butuh di support, apapun
ide nya jangan di remehkan. Dan dibalik perubahan yang mereka lakukan ada orang
tua hebat yang dengan cinta dan kekuatannya mendukung semangat putri-putri nya
untuk menjadi changemaker.
Bunda kami
tercinta ibu Septi Peni Wulandani, ada beberapa kata yang mampu membuat kami
tersenyum bahagia bahwa Tantangan itu tidak hanya dirasakan oleh kita
sendiri. Bunda membuat kami menyadari bahwa tantangan itu ada solusinya,
segera selesaikan tantangan itu agar kita bisa membantu yang lainnya. Bunda,
terimaksih sudah menjadi ibu ideologis bagi kami. Annur sangat bersyukur di
usia 25 tahun ini bisa mengikuti Konferensi Ibu Profesional, tadinya
mengira bahwa Konferensi Ibu Profesional khusus untuk yang sudah melakukan
perubahan yang nyata yang sudah ahli di bidangnya masing-masing sedangkan Annur
masih belajar.
17 Agustus 2019
Kami memng tidak
mengikuti upacara bendera, namun kami bernyanyi Indonesia Raya dengan khidmat,
membayangkan perjuangan pahlawan dalam merebut kemerdekaan. Yaaa, para pahlawan
yang membuat perubahan. Tidak hanya yang laki-laki, para perempuan di masa itu
pun semangat melakukan perjuangan untuk perubahan. Bahkan mereka pun
melaksanakan Kongres Perempuan yang pertama kali di Yogyakarta. Diikuti oleh 30
organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatra dan bertujuan
memperjuangkan hak-hak perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan
pernikahan.
Ada banyak ilmu
yang kami dapatkan, dan membuat kami Mupeng untuk melakukannya,
banyak yang bisa kami bawa pulang ke rumah untuk kami tiru dan modifikasi. Ada
hijrah nol sampah, kampanye anti bullying, mata aksara atau taman baca untuk
lingkungan sekitar,melakukan sedekah jariyah, membuat eco enzym, membuat
desain menu belajar sesuai STTPA, Ask to Solve, Konseling berperspektif gender,
dan sharing ibu Noor Liesnani owner Pamela swalayan serta Manajemen Masjid
Jogokaryan yang mampu melayani masyarakat di sekitar masjid.
Malamnya Pak Dodik
Marianto memberitahukan bagaimana menjadi perempuan yang berdaya. Mulailah
dari Dream It, jangan takut untuk bermimpi. Lalu Do It, jangan hanya
bermimpi! kita harus lakukan, apa yang akan kita mulai lakukan sesegera
mungkin. Share It, jangan pedulikan omongan orang lain selama apa yang
kita lakukan di jalan yang benar untuk membuat perubahan yang lebih baik dan
fokus dengan apa yang kita kerjakan. Lalu Grow It, yaa.. Perubahan itu
akan semakin tumbuh dan berkembang maka akan lebih besar manfaat yang dirasakan
oleh orang-orang di sekitar kita atau bahkan meluas ke lingkungan dan jangkauan
yang lebih besar.
Di hari terakhir
ada ibu Tri Mumpuni, kami takjub dan bangga pada beliau. Kisah beliau itu Masyaa
Allah luar biasa. Seorang wanita yang berdaya, gagah berani melakukan
perjalanan panjang untuk berjuang agar daerah yang belum tersentuh listrik bisa
segera mendapatkan listrik dan air bersih.
Dan memang benar,
perubahan itu dimulai dari dalam terlebih dahulu. Ibu Puni bercerita tentang
masa kecilnya yang memang sudah terbiasa mengikuti kegiatan ibu nya sebagai
sociopreneur. Dan ini membuka mata kami, bahwa apa yang kami lakukan sebaiknya
kami bicarakan dan perlihatkan juga ke anak-anak agar menjadi benih benih
perubahan yang kelak akan mereka rawat hingga tumbuh subur. Mendidik ibu itu
mendidik satu generasi.
Terimakasih atas kesempatan yang luar biasa untuk menjadi peserta Konferensi Ibu Profesional 2019. Terimakasih suami tersayang untuk ridho dan ijinnya serta support dana untuk istrimu ini menjadi bagian dari ibu-ibu agen perubahan lainnya. Terimakasih All Tim Panitia baik dari pusat maupun regional, terimakasih Bunda Septi dan Pak Dodik yang telah sukses membuat kami haru menjadi bagian dari Ibu Profesional do'akan kami sukses mengikuti jejak langkah Bapak dan Ibu dalam menjadi agen perubahan dan mendidik anak-anak kami agar anak-anak kami pun selamat. Menjadi generasi yang unggul dan mampu membuat perubahan baik bagi lingkungan sekitar.
Ada poin penting
yang Annur ambil dari semua pemateri dan changemaker yang tampil bahwa "melakukan
perubahan itu adalah melayani" . Yaaa! Sebelum melayani orang lain
kita harus selesai dengan diri kita sendiri. Mereka berbagi apa yang sudah
mereka jalani, prosesnya yang memang penuh tantangan namun lihat hasilnya yang
sangat memuaskan.
Dan akhir kata
"Proud to be
Changemaker"
Yogyakarta, 21
Agustus 2019
Annur - Ibu muda
yang senang belajar.
#KIP2019
#ibuberkonferensi
#ibuagenperubahan
@septipw

Tidak ada komentar:
Posting Komentar